Saat Anak Tak Masuk Sekolah Favorit

IMG20160217181355Musim pendaftaran sekolah akan tiba. Beberapa sekolah juga sudah membuka pendaftaran siswa baru. Momen ini menjadi momen yang begitu mendebarkan setelah momen kelulusan ujian nasional. Betapa tidak calon siswa baru akan saling bertarung untuk bisa masuk ke sekolah favorit.

Sebuah sekolah disebut favorit jika mempunyai banyak prestasi baik secara individu maupun lembaga, serta mampu menghasilkan lulusan yang kompeten. Hal ini menjadi penting sekali khususnya bagi orang tua yang ingin masa depan anaknya cerah. Tak jarang orang tua menempuh cara yang kurang baik seperti memberi “uang sogok” agar anaknya diterima di sekolah favorit.

Tak kalah dengan orang tua, terkadang sekolah lewat beberapa oknum yang memfasilitasi hal di tersebut. Bagi orang tua pasti sangat bangga apabila anaknya diterima di sekolah favorit. Selain kebanggaan tentu jaminan masa depan yang ditawarkan dari sekolah favorit tersebut. Tapi apakah benar demikian?

Ada baiknya sebagai orang tua juga perlu melihat secara utuh berbagai aspek terkait pemilihan sekolah. Yang pertama tentu potensi anak. Tak semua anak mempunyai potensi yang sama. Semua anak punya potensi dan bakat masing- masing. Orang tua harus pula mencatat bahwa sekian potensi yang dimiliki anak tidak bisa hanya diukur dari nilai akademik di sekolah.

Kedua, orang tua perlu melihat proses pembelajaran anak. Semua meyakini bahwa pendidikan merupakan proses yang dinamis. Banyak hal yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan anak. Sehingga tak jarang ada anak yang ketika SD berprestasi, namun saat SMP jeblok. Adapula dari SD hingga kuliah selalu nomer satu, namun saat terjun di dunia kerja dan masyarakat nol.

Ketiga, selalu membuka diri dengan perkembangan yang ada. Pendidikan zaman dahulu tentu beda dengan sekarang. Sekarang sudah lahir generasi “z” yang mampu mendapat banyak sumber ilmu di luar sekolah. Zaman dahulu mungkin SMK dipandang sebelah mata, namun sekarang bisa dilihat betapa banyak lulusan SMK yang mampu bersaing di masyarakat. Bahkan tentang “harga” sebuah ijazah pun sekarang beda. Tak perlu menutup mata bahwa salah satu menteri kabinet kerja hanya berijazah SMA. Sudah beda bukan?

Keempat, doa orang tua. Ini yang barangkali sering terlupakan. Semua usaha akan sia-sia tanpa ada ridho dari Allah. Jikalau berhasil, usaha itupun tak akan berkah. Tentunya orang tua tidak mau jika keberhasilan pendidikan anak hingga ke jenjang karir pupus karena korupsi. Di situlah salah satu peran doa selain sebagai pembuka ridho dan keberkahan sekaligus sebagai perlindungan dari Allah.

Nah, dari berbagai macam hal tersebut, orang tua tak perlu khawatir apabila anaknya tidak diterima di sekolah favorit. Apalagi jika harus menghalalkan segala cara. Yang justru mengurangi keberkahan dari proses pendidikan anak.