Saat Anak Tak Masuk Sekolah Favorit

IMG20160217181355Musim pendaftaran sekolah akan tiba. Beberapa sekolah juga sudah membuka pendaftaran siswa baru. Momen ini menjadi momen yang begitu mendebarkan setelah momen kelulusan ujian nasional. Betapa tidak calon siswa baru akan saling bertarung untuk bisa masuk ke sekolah favorit.

Sebuah sekolah disebut favorit jika mempunyai banyak prestasi baik secara individu maupun lembaga, serta mampu menghasilkan lulusan yang kompeten. Hal ini menjadi penting sekali khususnya bagi orang tua yang ingin masa depan anaknya cerah. Tak jarang orang tua menempuh cara yang kurang baik seperti memberi “uang sogok” agar anaknya diterima di sekolah favorit.

Tak kalah dengan orang tua, terkadang sekolah lewat beberapa oknum yang memfasilitasi hal di tersebut. Bagi orang tua pasti sangat bangga apabila anaknya diterima di sekolah favorit. Selain kebanggaan tentu jaminan masa depan yang ditawarkan dari sekolah favorit tersebut. Tapi apakah benar demikian?

Ada baiknya sebagai orang tua juga perlu melihat secara utuh berbagai aspek terkait pemilihan sekolah. Yang pertama tentu potensi anak. Tak semua anak mempunyai potensi yang sama. Semua anak punya potensi dan bakat masing- masing. Orang tua harus pula mencatat bahwa sekian potensi yang dimiliki anak tidak bisa hanya diukur dari nilai akademik di sekolah.

Kedua, orang tua perlu melihat proses pembelajaran anak. Semua meyakini bahwa pendidikan merupakan proses yang dinamis. Banyak hal yang berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan anak. Sehingga tak jarang ada anak yang ketika SD berprestasi, namun saat SMP jeblok. Adapula dari SD hingga kuliah selalu nomer satu, namun saat terjun di dunia kerja dan masyarakat nol.

Ketiga, selalu membuka diri dengan perkembangan yang ada. Pendidikan zaman dahulu tentu beda dengan sekarang. Sekarang sudah lahir generasi “z” yang mampu mendapat banyak sumber ilmu di luar sekolah. Zaman dahulu mungkin SMK dipandang sebelah mata, namun sekarang bisa dilihat betapa banyak lulusan SMK yang mampu bersaing di masyarakat. Bahkan tentang “harga” sebuah ijazah pun sekarang beda. Tak perlu menutup mata bahwa salah satu menteri kabinet kerja hanya berijazah SMA. Sudah beda bukan?

Keempat, doa orang tua. Ini yang barangkali sering terlupakan. Semua usaha akan sia-sia tanpa ada ridho dari Allah. Jikalau berhasil, usaha itupun tak akan berkah. Tentunya orang tua tidak mau jika keberhasilan pendidikan anak hingga ke jenjang karir pupus karena korupsi. Di situlah salah satu peran doa selain sebagai pembuka ridho dan keberkahan sekaligus sebagai perlindungan dari Allah.

Nah, dari berbagai macam hal tersebut, orang tua tak perlu khawatir apabila anaknya tidak diterima di sekolah favorit. Apalagi jika harus menghalalkan segala cara. Yang justru mengurangi keberkahan dari proses pendidikan anak.

Bersahabat Dalam Kebaikan

Oleh Ust. Nur Alim, Lc.

Persahabatan itu tidak selalu ideal. Kadang ada pertentangan batin demi sebuah persahabatan. Ambil contoh adalah 20160529_071228Karna. Bermula dari pembelaan Duryudana saat perlombaan panah, akhirnya Karna menjadi pembela setianya. Hingga akhornya pada saat perang Baratayuda, dia lebih memilih berada dipihak Kurawa. Meskipun dia tahu bahwa Pandawa berada dipihak yang benar dan mereka ternyata adalah saudaranya. Kematian Karna adalah satu – satunya kematian pihak Kurawa yang ditangisi oleh Pandawa. Konon, pemberian nama Soekarno oleh orang tuanya juga terinpirasi dari tokoh Karna.

Kita tentu tidak ingin kisah persahabatan yang terjadi diantara aktivis dakwah menjadi sedemikian problematis sebagaimana kisah Karna. Karena itu jalinan persahabatan yang penuh keramahan dan kehangatan wajib untuk dibangun, agar tidak ada aktivis dakwah yang belok kanan atau belok kiri dan memilih untuk bersahabat dengan musuh.

Pernah suatu saat khalifah Mu’awiyah bin Abu Sofyan ra ditanya, bagaimana caranya menjaga hubungan persahabatan? Beliau menjawab “Seperti halnya memegang tali. Jika mereka mengencangkan, aku mengendurkan. Jika mereka mengendurkan, maka aku mengencangkan”. Alhasil, masa pemerintahannya yang panjang dilalui dengan stabil. Goncangan dan gelombang pemberontakan terjadinya dimasa Yazid.

Selain jalinan diantara sesama dai, kyai, asatodz dak aktivis dakwah, jalinan persahabatan yang erat juga wajib dibangun dengan kaum muslimin secara umum. Bulan ramadhan adalah salah satu wasilah terbaik untuk membina persahabatan yang tulus. Bagaimana mekanismenya?

Pertama, Meminta Kerelaan
Sebagian besar kaum muslimin di Indonesia menggunakan momentum Syawal untuk meminta maaf, saling berkunjung dan mempererat silaturahim. Sebenarnya, momentum jelang ramadhan bisa menjadi momentum yang sangat baik pula. Karna diantara persiapan memasuki bulan ramadhan adalah meminta kerelaan dan permaafan kepada sesama atas kesalahan yang telah diperbuat. Sekaligus mengembalikan segala hak dan bentuk kezhaliman yang pernah kita ambil tanpa alasan yang hak. Sehingga kita bisa memasuki bulan ramadhan dengan hati yang suci, tanpa cela dan tanpa beban.

Dalilnya tentu melimpah ruah. Diantara adalah tidak diterimanya amal dari budak yang lari dari tuannya, anak yang durhaka kepada orang tuanya, tidak dikabulkannya doa dari mereka yang makanan dan pakaiannya haram dll. Termasuk, adanya sifat hasad dan dengki berpotensi merusak amal puasa, karena membuat pikiran tidak tenang, hati menggerutu dan mulut terus berkomat – kamit dengan ghibah dan fitnah. Lalu, dimana esensi kita berpuasa? Bukankah rasulullah berwasiat “Rubbba shaaimin hadhdhuhu min shiyaamihi juu’i wal ‘athas”. Agar kita selamat dari eperilaku demikian, maka sebaiknya kita masuki bulan ramadhan dengan hati putih bersih.

Kedua, Makan Bersama
Makan bersama itu menjadi salah satu wasilah paling efektif untuk mengikat persahabatan sekaligus menjadi parameter tingkat keakraban dan sehatnya ukhuwah. Hal ini terjadi baik pada orang yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. Saat menerima tamu yang tidak dikenalnya, buru – buru nabi Ibrahim menyembelih kambing untuk dihidangkan sebagai jamuan. Saat tamunya (yang ternyata adalah malaikat) tidak mau menyentuhnya, maka nabi Ibrahim merasa takut. Apa rahasianya? Karena makan bersama adalah tanda persahabatan dan menolak makanan adalah tanda permusuhan. Atau minimal, tingginya kadar kecurigaan serta rendahnya tingkat kepercayaan dan kebersamaan.

Pada sebagian kaum muslimin di Indonesia, ada tradisi makan bersama dalam banyak momentum. Mulai dari kenduri/kepungan dirumah, arisan RT/RW, silaturahim keluarga dll. Pada bulan ramadhan, kita memiliki banyak sekali wasilah untuk makan bersama dengan sesama. Baik dengan ifthar, berbagi takjilan, makan snack saat taushiah ba’da tarawih atau saat tadarusan di masjid. Momentum makan bersama, ditempat yang mulia (masjid/musholla) dalam suasana ibadah, sungguh menjadi wasilah pengikat hati yang efektif. Sebagaima pesan rasululah kepada kita semua “Wa kuunuu ‘ibadallaahi ikhwanaa”.

Khatimah
Ada shahabat dikabarkan surga oleh rasulullah, bukan karena amal – amalnya yang istimewa. Sampai ‘Abdullah bin ‘Umar ra merasa penasaran dan berkeinginan harus menyelidikinya dengan bermalam dirumahnya selama 3 hari. Setelah tiga hari berlalu, dia melihat bahwa amalan shahabat tersebut biasa saja. Biasa dalam hal ini tentu menurut standarnya generasi shahabat, bulan diukur menurut generasinya kita saat ini.

Setelah Ibnu Umar menyampaikan maksud sebenarnya, shahabat itu akhirnya bingung juga. Karena merasa tidak ada sesuatu darinya yang istimewa. Tapi setelah direnungi lagi, dia berkata “Mungkin penyebabnya karena kami tidak memiliki sifat hasad dan dengki kepada sesama muslim. Tidaklah kami tidur terkecuali kami mengingat – ingat dengan siapa kami bermuamalah dihari itu, lalu mendoakan kebaikan bagi mereka semua”. Bukankah diantara doa yang dikabulkan Allah adalah doa kepada sesama muslim dalam kondisi yang dirahasiakan?

Dibulan ramadhan, kita memiliki banyak momentum untuk beramal bersama dengan kaum muslimin. Buka puasa bersama, shalat tarawih bersama, ngaji bersama, doa bersama, tadarus bersama dll. Karena itu, mari jadikan bulan ramadhan menjadi sarana untuk mengikat persahabatan dan meningkatkan ukhuwah. Mari kita beribadah bersama dengan penuh kebersamaan, agar kelak juga bisa masuk surga bersama – sama pula. Wallahu a’lam.

Refleksi Menyambut Ramadhan

IMG-20160522-WA0014Jika ingin mencari waktu yang tepat untuk mengamati geliat ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, maka waktu yang tepat untuk melakukannya ada di bulan Ramadhan. Ramadhan bagi masyarkat tidak hanya bermakna spiritualitas semata, namun juga bermakna tradisi. Tradisi yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial, ataupun, budaya.

 Tradisi yang kuat dan mengakar begitu dipegang masyarakat sejak dulu hingga sekarang. Contoh yang paling mudah adalah tradisi mudik. Mudik menjadi peristiwa yang luar biasa di bulan Ramadhan karena sekian ribu orang melakukan perjalanan dalam rentang waktu yang sama dan barangkali tempat yang sama pula. Perputaran ekonomi yang besar terjadi saat mudik dari mulai tarif transportasi hingga pakaian baru yang dikenakan. Eksistensi sosial pun begitu kuat karena bagi sebagian masyarakat mudik dijadikan sebagai ajang untuk memperlihatkan keberhasilan di tanah rantau. Tentu saja budaya, yang mana hampir di semua masyarakat pasti melakukan tradisi sungkeman (saling bermaafan).

Tradisi masyarakat ini seolah-olah menjadikan Ramadhan sebagai acara hajat akbar. Tak tanggung-tanggung di setiap daerah selalu punya agenda khas untuk menyemarakan baik sebelum ataupun sesudah Ramadhan. Kawasan Pantura dikenal ada Lebaran Ketupat, Jogja ada Grebeg Syawal, ada juga ritual padusan sebelum awal bulan. Tentunya di daerah lain punya agenda-agenda yang sesuai dengan tradisi setempat.

Dengan kompleksnya acara di bulan Ramadhan, tak ayal pemerintah juga ikut masuk untuk mengatur dan memfasilitasi masyarakat. Kebijakan politik pun masuk di sini. Berbagai aturan tarif transportasi, harga bahan pokok, hingga lalu lintas yang dilalui saat mudik diatur sedemikian rupa. Keterlibatan pemerintah lintas sektoral sangat penting untuk mendukung kebijakan yang ada dari sektor perhubungan, kepolisian, perdagangan, hingga keagamaan.

Ramadhan sebagai sebuah tradisi semakin menegaskan bahwa masyarakat begitu antusias menyambutnya. Meski hanya satu bulan dalam setahun tetap saja Ramadhan lebih gemerlap dari bulan lain. Tengok saja jumlah pengeluaran dalam di bulan Ramadhan. Mayoritas meyakini akan lebih banyak dari bulan lain. Padahal secara hitungan sederhana seharusnya lebih sedikit. Begitulah, saat tradisi yang berbicara, saat itulah kebutuhan untuk melaksanakan tradisi itu muncul.

Namun tanpa mengurangi nilai dari sebuah tradisi tetap saja urgensi utama Ramadhan adalah spiritualitas. Ramadhan hadir sebagai ruang spiritualitas sebelum tradisi. Spiritualitas bicara cara umat muslim menuju tujuan Ramadhan (pribadi yang bertakwa). Sedangkan tradisi bicara cara menyemarakkan Ramadhan.

Spiritualitas hadir dengan berbagai tata cara dan pedoman yang sudah diatur dalam Al Quran dan Sunnah. Tata caranya sudah hadir sejak dulu, saat Ramadhan hadir pertama kali. Dengan mengamalkan tanpa tambahan apapun, tujuan Ramadhan bisa tercapai. Ramadhan akan tetap ada meski tanpa tradisi sekalipun.

Esensi utama dalam Ramadhan itu sendiri adalah peningkatan amal ibadah. Sekecil apapun ibadah akan diberi pahala yang besar di bulan Ramadhan. Bahkan untuk urusan tidur pun, diberi pahala di bulan Ramadhan. Tak salah memang, Ramadhan hadir untuk meningkatkan ketakwaan.

Akhirnya dengan kita hidup bermasyarakat, tak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada dua sisi makna Ramadhan yaitu sebagai spiritualitas dan sebagai tradisi. Seyogyanya tradisi yang ada tidak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah di bulan Ramadhan. Kalaupun tradisi itu dianggap sebagai sebuah kewajiban tetap jangan sampai mengurangi kadar ibadah secara kuantitas ataupun kualitas.

Kartini dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Jepara

RWirianingsih1A Kartini yang selama ini banyak dikenal sebagai tokoh yang peduli pendidikan, ternyata juga seorang perempuan yang berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Jepara kala itu. Saat usianya enam belas tahun, bersama adiknya Rukmini dan Kardinah, Kartini mengirimkan beberapa karya seninya dalam Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) yang diselenggarakan di Den Haag tahun 1898. Dalam pameran itu, Kartini mengirim karyanya berupa dua buah lukisan pemandangan alam berbingkai kayu ukiran, hiasan dinding bunga tulip, hiasan dinding bergambar burung dari kain satin dalam bingkai bambu, lukisan kaca, sembilan buah kerang besar yang dilukis aneka pemandangan, enam buah bambu berukir dan alat batik serta tulisan proses pembatikan. Karya seni Kartini dan adik-adiknya ini mendapat perhatian khusus dari Sri Ratu Wilhelmina dan Ibu Suri Ratu Emma. Bahkan kepada Ketua Panitia, Ny. Lucardie, keduanya minta dibacakan surat pengantar dari Kartini. Kejadian ini ditulis dalam surat kabar De Rotterdamse Courant tanggal 30 Agustus 1898 (Hadi Priyanto, 2014:32-33).

Keberhasilan dalam pameran tersebut mendorong sekaligus menginspirasi Kartini dalam upaya  membantu perajin yang ada di Jepara untuk meningkatkan penghasilannya. Pada masa itu, seni ukir memang mulai berkembang namun hanya sebatas seni kerajinan tangan, belum dikerjakan dengan tujuan komersial sehingga belum begitu berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Diantara banyak desa yang banyak perajin ukirnya, Kartini memilih perajin yang berada di daerah Belakang Gunung, sebuah kampung artis yang terletak di belakang Benteng Portugis, di atas bukit. Penduduk Belakang Gunungkebanyakan adalah para pengukir, pandai besi dan pemahat kulit. Kampung ini secara tradisional merupakan kampung artis namun mereka sangat miskin. Bagi Kartini, keahlian ini tidak boleh dibiarkan merana (Pramoedya, 2010:189). Menurutnya, daerah Belakang Gunung memiliki banyak perajin yang karya-karyanya tergolong indah namun mereka tetap miskin dan tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan reyot. Penghasilan perajin yang rendah ini disebabkan harga jual yang rendah dan kadang harga ditentukan oleh pembeli yang kebetulan datang ke kawasan tersebut.

Kartini memulai upaya pemberdayaan ekonomi bagi para perajin ukir tersebut. Dengan dukungan ayah dan saudaranya, ia menampung duabelas perajin (akhirnya bertambah menjadi lima puluh orang karena pesanan bertambah banyak) yang diberi tempat di belakang rumah kadipaten dan dibimbing oleh Singowiryo. Para perajin itu diminta membuat barang berukuran kecil seperti peti rokok, tempat jahitan, meja kecil dan lainnya. Setelah jadi, Kartini menjual barang-barang ini ke Batavia dan Semarang dengan harga cukup tinggi dibanding harga jual di Jepara. Setelah dipotong biaya pengiriman dan bahan baku, uang hasil penjualan ini diberikan kepada para perajin.

Usaha pemberdayaan para perajin ukir ini terus berkembang. Salah satu bentuk promosi yang Kartini lakukan selain menjual, adalah dengan mengirim barang-barang itu sebagai cinderamata kepada teman-temannya yang orang Belanda, baik yang ada di Semarang, Batavia maupun yang ada di Belanda. Karena mutunya cukup bagus, pesananpun berdatangan. Bahkan saat itu barang-barang yang dibuat tidak hanya yang berukuran kecil tapi mulai berkembang pada perkakas ukir seperti kursi pengantin, meja, tempat tidur dan kursi tamu. Disini Kartini mulai terlibat dalam mendesain ukiran. Motif yang disukainya adalah motif Lunglungan Bunga dan menjadi motif yang digemari masyarakat. Motif ciptaan Kartini ini kemudian menjadi salah satu motif khas asli Jepara.

Usaha Kartini membuahkan hasil. Ukir kayu Jepara mulai dikenal luas tidak hanya di pasar lokal namun juga di pasar internasional. Ia seringkali menulis di surat kabar yang ada di Hindia Belanda dan surat kabar yang ada di Belanda tentang keindahan seni ukir Jepara, yang dengan tulisan itu banyak orang kagum akan keindahan seni ukir Jepara. Berkat tulisan-tulisan tersebut, sebuah lembaga perdagangan yang dipimpin oleh Ny. N. van Zuylen Tromp (didirikan tahun 1899 setelah acara Pameran Karya Wanita di Den Haag), bernama Oost en West,mengajak Kartini untuk bermitra dagang (Hadi Priyanto, 2014:37). Demikianlah, Kartini telah merintis jalan bagi terbukanya pasar baru bagi seni ukir Jepara.

Ukiran Jepara Go International

Kerja keras Kartini memberdayakan ekonomi masyarakat Jepara melalui kerajinan ukiran kayu membuahkan hasil. Ia mulai membangun hubungan dagang dengan Oost en West yang baru membuka cabang di Batavia. Oost en Westbertujuan untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan masyarakat bumiputera. Bahkan pada tahun 1903, Oost en West mendirikan sebuah perusahaan di Den Haag yang diberi nama Boeatan yang secara khusus menangani bisnis kerajinan.

Hubungan perdagangan ini mudah dibangun karena nama RA Kartini sudah dikenal, terutama setelah Kartini mengikutkan karyanya pada Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) tahun 1898 di Den Haag. Kartini dengan tekun membersamai dan mengawasi para perajin ukir dari Belakang Gunung yang mulai dipesan Oost en West.

Kartini menuliskan kegembiraannya pada Eddy Abendanon, putra J.H. Abendanon, pada tanggal 15 Agustus 1902 ketika Oost en West banyak memesan barang ukiran untuk keperluan pesta sinterklas.

“Hore untuk kesenian dan kerajinan rakyat kami! Hari depanmu pasti akan gemilang! Aku tak dapat mengatakan betapa girang dan bahagia aku. Kami mengagumi rakyat kami. Kami bangga atas mereka. Rakyat kami yang kurang dikenal, karena itu juga kurang dihargai……. Hari depan Jepara sekarang terjamin….. Tuan Zimmermann memuji setinggi langit hasil karya arsitek dari rakyat berkulit coklat yang sering dihina. Seniman-seniman kami mendapatkan pesanan dari Oost en West untuk sinterklas. Sekarang seniman-seniman kami dapat melaksanakan ide-ide mereka yang sangat bagus-bagus. Dapat menjelmakan gagasan-gagasan yang puitis dalam bentuk-bentuk yang indah, garis-garis yang ramping, berombak-ombak, berkelok-kelok dalam pancawarna yang cemerlang.”

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Usaha Mikro Kerajinan Rakyat

Kartini mengatakan dalam suratnya kepada Ny. R.M. Abendanon tertanggal 9 Maret 1903:

“Kami sudah menerima kabar. Beberapa hari lagi kulit penyu itu sudah ada disini, dan akan dibawa pandai emas ke Solo. Senang sekali bahwa sekarang sudah ada tiga cabang kerajinan seni yang sedang berkembang di tempat kelahiran saya. Dan kami sedang berikhtiar mencari kerajinan lain yang akan kami galakkan”(Rahayu Amatullah, 2016).

Demikianlah Kartini tak pernah berhenti bekerja untuk rakyat. Pikiran beliau tak lelah menganalisa, mencari ide-ide untuk membuat rakyat Jepara khususnya menjadi lebih sejahtera. Dan Kartini menjalaninya dengan segenap ketelatenan dalam pembinaan. Beliau melanjutkan dalam suratnya: “Mereka sekarang tahu, mengerti bahwa maksud kami ialah memakmurkan mereka sendiri. Mereka maklum akan keuntungannya sendiri, dan mereka menghargai usaha kami dengan membantu secara gembira dan rajin. Semuanya yang kami kerjakan bagi mereka akan sia-sia saja bila mereka tidak mengerti, bahwa kami bermaksud baik bagi mereka dan kesejahteraan merekalah yang kami tuju…… Alangkah senangnya melihat, bagaimana cabang kerajinan tadi benar-benar mulai hidup. Perempuan tukang dringin [kerajinan sabuk sutera bersulam benang emas, pen.] mulai bekerja besar-besaran. Bahkan di kampung sekitar kampung Melayu orang Bumiputera juga mengerjakan hal itu…”

Dari penggal paragraf surat diatas kita memahami bahwa Kartini melakukan pemberdayaan masyarakat. Beliau bekerja tekun melakukan pembinaan dan pendampingan kelompok-kelompok perajin di beberapa kampung dan bukan hanya kerajinan seni ukir kayu. Ketelatenan pendampingan itu beliau maksudkan agar pada akhirnya para perajin dapat mandiri.

Kartini bahkan memikirkan pengkaderan perajin sebagaimana yang disampaikan kepada Ny. Abendanon:

“Tukang emas sudah bertambah banyak pembantu dan murid-muridnya. Dan ada pula anak-anak yang minta dididk menjadi tukang ukir kayu. Ada satu hal yang lebih-lebih menggirangkan hati saya benar. Diantara murid-murid itu ada satu anak kota, juga bukan anak dari Belakang Gunung, desa tukang ukir kayu. Murid-murid lain kami yang mencarinya, tetapi yang seorang datang dari kota itu datang sendiri minta turut belajar. Itulah yang kami kehendaki. Itulah tanda yang mengggembirakan, menyenangkan hati! Syukur, beribu-ribu syukur!” (Rahayu Amatullah, 2016).

Kartini memang seorang pemimpin yang natural sekaligus visioner, yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadinya.

Dra Wirianingsih, Msi

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS

 

——————-

Daftar Pustaka:

  1. Hadi Priyanto, dkk, Mozaik Seni Ukir Jepara (Pemkab Jepara: Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara)
  2. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Lentera Dipantara 2010)
  3. Rahayu Amatullah, Kartini: Jejak Sebuah Jatidiri (Granada Publishing House 2016)

I’tikaf, Menemukan Kesejatian Diri

Diambil dari Buku Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M. Anis Matta – Keajaiban I’tikaf (Menemukan Kesejatian Diri)

Kita sudah relatif jauh berjalan. Banyak yang sudah kita lihat dan yang kita raih. Tapi banyak yang masih kita keluhkan: rintangan yang menghambat, goncangan yang melelahkan fisik dan jiwa, suara-suara gaduh yang memekakkan telinga dari mereka yang mengobrol tanpa ilmu, dan tikungan-tikungan tajam yang menegangkan. Sementara, banyak pemandangan indah yang terlewatkan dan tak sempat kita potret. Dan masih banyak lagi.

Jadi, mari kita berhenti sejenak disini! Ber’itikaf. Kita memerlukan saat-saat itu: saat dimana kita membebaskan diri dari rutinitas yang mengurangi kepekaan spiritual; saat dimana kita melepaskan sejenak beban kehidupan yang selama ini kita pikul dan mungkin menguras stamina kita.

Kita memerlukan saat-saat seperti itu, karena kita perlu membuka kembali peta perjalanan kita; melihat-lihat jauhnya jarak yang telah kita tempuh dan sisa perjalanan yang masih harus kita lalui; menengok kembali hasil-hasil yang telah kita lalui; meneliti rintangan yang mungkin menghambat laju pertumbuhan kita; memandang ke alam sekitar karena banyak aspek dari lingkungan strategis kita telah berubah.

I’tikaf kita butuhkan untuk dua keperluan. Pertama, untuk memantau keseimbangan antara berbagai perubahan pada lingkungan strategis dengan kondisi internal dakwah serta laju pertumbuhannya. Yang ingin dicapai dari upaya ini adalah memperbarui dan mempertajam orientasi kita; melakukan penyelarasan dan penyeimbangan berkesinambungan antara kapasitas internal dakwah, peluang yang disediakan lingkungan eksternal, dan target-target yang dapat kita raih.

Kedua, untuk mengisi ulang hati kita dengan energi baru sekaligus membersihkan debu-debu yang melekat padanya selama menapaki jalan dakwah. Yang ingin kita raih adalah memperbarui komitmen dan janji setia kita kepada Allah SWT bahwa kita akan tetap tegar menghadapi semua tantangan; bahwa yang kita harap dari semua ini hanyalah ridha-Nya.

Karena itu, i’tikaf harus menjadi tradisi yang semakin kita butuhkan ketika perjalanan hidup sudah semakin jauh. Tradisi i’tikaf ini harus kita lakukan dalam dua tingkatan; individu atau jamaah. Pada tingkatan individu, tradisi ini dikukuhkan melalui kebiasaan merenungi, menghayati, dan menyelami telaga akal kita untuk menemukan gagasan baru yang kreatif, matang, dan aktual di samping kebiasaan muhasabah, memperbarui niat, menguatkan kesadaran dan motivasi, serta memelihara kesinambungan semangat jihad.

Kalau ada pemaknaan yang aplikatif terhadap hakikat kekhusyukan yang disebutkan Al-Qur’an, maka ini salah satunya. Penghentian seperti inilah yang mewariskan kemampuan berpikir strategis, penghayatan emosional yang menyatu secara kuat dengan kesadaran dan keterarahan yang senantiasa terjaga di sepanjang jalan dakwah yang berliku dan curam.

Maka, Allah SWT mengatakan, “Belumkah datang saat bagi orang-orang beriman untuk mengkhusyukan hati dalam mengingat Allah dan dalam (menjalankan) kebenaran yang diturunkan. Dan bahwa hendaklah mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang telah diberikan Alkitab sebelumnya (dimana) ketika jarak antara mereka (dengan sang rasul) telah jauh, maka hati-hati mereka jadi keras, dan banyak dari mereka jadi fasik.” (QS Al Hadid: 16).

Di masa Islam, Allah mensyariatkan i’tikaf sepuluh hari terakhir pada setiap Bulan Ramadhan. Begini pula akhirnya kita memahami mengapa majelis-majelis kecil para sahabat Rasulullah SAW di masjid atau di rumah-rumah berubah menjadi wacana merawat kesinambungan iman dan semangat jihad. Maka ucapan mereka, kata Ali bin Abi Thalib, adalah dzikir, dan diam mereka adalah perenungan.

Tradisi inilah yang hilang di antara kita, sehingga diam kita berubah jadi imajinasi yang liar, ucapan kita kehilangan arah dan makna. Maka, dakwah kehilangan semua yang ia butuhkan berupa pikiran-pikiran baru yang matang dan brilian, kesadaran yang senantiasa melahirkan kepekaan, dan semangat jihad yang tak pernah padam di sepanjang jalan dakwah yang jauh dan berliku.