PKS Jepara Wajibkan Pengurus Khatam 3 Kali Selama Ramadhan

Jepara (6/6)- Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan rahmat dan berkah. Setiap kebaikan meski IMG-20160607-WA0001kecil akan bernilai ibadah berkali lipat dari hari biasa. Pintu ampunan dosa juga akan dibuka dengan lebar.

Atas dasar itulah, PKS Jepara mewajibkan pengurus untuk bisa menambah amalan selama Ramadhan. Salah satu yang digenjot dan diwajibkan adalah mengkhatamkan Al Quran 3 kali selama Ramadhan.

Diungkapkan Ketua Dewan Syariah PKS Jepara Nur Alim, Lc bahwa sudah semestinya pengurus bisa memberi contoh untuk bisa mengkhatamkan Al Quran 3 kali.

“Sebagai pengurus, sudah seharusnya membuat target bisa khatam 3 kali dalam sebulan. Artinya membaca 3 juz tiap hari”, ungkap Nur Alim, Lc.

Nur Alim, Lc turut menyinggung kehadiran kader dalam sholat berjamaah. Menurutnya sholat berjamaah di masjid juga harus ditingkatkan.

“Jangan kalah juga dengan para marbot. Para kader harus bisa untuk sholat berjamaah 5 kali di masjid, tambahnya.

Sarana Perbaikan Diri

Hal senada juga diungkapkan Saifuddin, anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera. Saifuddin menghimbau jangan jadikan puasa sebagai menahan lapar saja tapi juga sebagai sarana perbaikan diri dalam rangka penambahan amal ibadah.

“Mari jadikan bulan Ramadhan ini sebagai waktu untuk perbaikan diri dengan menambah amal ibadah”, ungkap Saifuddin.

Saifuddin yang merupakan anggota legislatif dari Dapil 1 Jepara sangat mendukung dengan program penambahan amal ibadah di bulan Ramadhan.

Diajak Masuk Koalisi Besar, PKS Siapkan Sani dan Nur Mahmudi Jadi Cawagub

Jakarta – PKS mengaku diajak oleh PDIP masuk koalisi besar untuk menghadapi Gubernur DKI incumbent Basuki 99b1b34c-15b2-4018-8ea2-c6d767211ff8Tjahaja Purnama (Ahok) di Pilgub DKI 2017. PKS menyiapkan cawagub.

“PKS diajak berkomunikasi dengan PDIP, Gerindra, PKB, PAN. Kita biasa berkomunikasi dengan kawan-kawan ini,” ungkap Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid di Gedung DPR, Senayan, Selasa (7/6/2016).

PKS siap ikut berkoalisi karena 11 kursi di DPRD DKI tidak cukup untuk mengusung calon sendiri. Syarat minimal untuk mengusung calon berjumlah 22 kursi.

“Yang sudah ajak kami dari PDIP. Itu bisa juga mengajukan calon alternatif. Berapa jumlahnya kita belum tahu, tapi jelas komunikasi sudah berjalan. Saya mendukung agar parpol mencalonkan dari parpol. Independen ya sudah terserah masing-masing,” ucap Hidayat.

Meski sudah melakukan penjajakan dengan PDIP, Gerindra, PKB, dan PAN, saat ini PKS mengaku masih melihat perkembangan yang ada. PKS juga menurut Hidayat sudah menyiapkan sejumlah kadernya agar bisa diusulkan untuk disandingkan dengan calon dari PDIP.

“Kami tidak mungkin mencalonkan untuk DKI-1, kalau kami mencalonkan untuk DKI-2. Kami punya calon untuk itu. Posisi kami untuk DKI-1 monggo PDIP untuk mengajukan. Kami akan lihat calon PDIP siapa, calon Gerindra siapa,” ujarnya.

Setidaknya ada dua nama elite PKS yang disebut Hidayat sudah disiapkan. Yakni Wakil Ketua DPRD DKI Triwisaksana (Bang Sani) dan mantan Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail.

“Bisa Bang Sani, bisa juga teman-teman lain termasuk Pak Nur Mahmudi Ismail, wali kota Depok yang kemarin, untuk DKI-2 masih mungkin. Masih bisa dirundingkan. Kami tentu harus memusyawarahkannya dengan kader, karena kami juga melakukan seleksi internal,” beber Hidayat.

Tak hanya itu, PKS pun masih menunggu keputusan dari PDIP dan Gerindra terkait calon-calon yang akan diusung pada koalisi besar tersebut. Hidayat juga menegaskan bahwa koalisi ‘gemuk’ itu tidak dimaksudkan untuk menjegal Gubernur DKI petahana Basuki T Purnama (Ahok) yang memilih maju melalui jalur independen.

“Dari PDIP belum menyebutkan nama. Apakah benar Bu Risma (Wali Kota Surabaya), atau Pak Ganjar (Gubernur Jateng), atau Pak Djarot (Wagub DKI). Kami belum tahu karena PDIP juga belum menyampaikan secara final. Apalah PDIP akan mendengarkan partai-partai yang mau diajak koalisi, kita akan lihat,” sebut Wakil Ketua MPR itu.

“Menurut saya bukan dalam rangka koalisi besar melawan Ahok, nggak. Ini adalah pilihan demokrasi yang terbuka. Yang calon independen itu pilihan demokrasi dan itu boleh. Dari parpol, dan koalisi boleh,” imbuhnya mengakhiri.

sumber : detik.com

Bersahabat Dalam Kebaikan

Oleh Ust. Nur Alim, Lc.

Persahabatan itu tidak selalu ideal. Kadang ada pertentangan batin demi sebuah persahabatan. Ambil contoh adalah 20160529_071228Karna. Bermula dari pembelaan Duryudana saat perlombaan panah, akhirnya Karna menjadi pembela setianya. Hingga akhornya pada saat perang Baratayuda, dia lebih memilih berada dipihak Kurawa. Meskipun dia tahu bahwa Pandawa berada dipihak yang benar dan mereka ternyata adalah saudaranya. Kematian Karna adalah satu – satunya kematian pihak Kurawa yang ditangisi oleh Pandawa. Konon, pemberian nama Soekarno oleh orang tuanya juga terinpirasi dari tokoh Karna.

Kita tentu tidak ingin kisah persahabatan yang terjadi diantara aktivis dakwah menjadi sedemikian problematis sebagaimana kisah Karna. Karena itu jalinan persahabatan yang penuh keramahan dan kehangatan wajib untuk dibangun, agar tidak ada aktivis dakwah yang belok kanan atau belok kiri dan memilih untuk bersahabat dengan musuh.

Pernah suatu saat khalifah Mu’awiyah bin Abu Sofyan ra ditanya, bagaimana caranya menjaga hubungan persahabatan? Beliau menjawab “Seperti halnya memegang tali. Jika mereka mengencangkan, aku mengendurkan. Jika mereka mengendurkan, maka aku mengencangkan”. Alhasil, masa pemerintahannya yang panjang dilalui dengan stabil. Goncangan dan gelombang pemberontakan terjadinya dimasa Yazid.

Selain jalinan diantara sesama dai, kyai, asatodz dak aktivis dakwah, jalinan persahabatan yang erat juga wajib dibangun dengan kaum muslimin secara umum. Bulan ramadhan adalah salah satu wasilah terbaik untuk membina persahabatan yang tulus. Bagaimana mekanismenya?

Pertama, Meminta Kerelaan
Sebagian besar kaum muslimin di Indonesia menggunakan momentum Syawal untuk meminta maaf, saling berkunjung dan mempererat silaturahim. Sebenarnya, momentum jelang ramadhan bisa menjadi momentum yang sangat baik pula. Karna diantara persiapan memasuki bulan ramadhan adalah meminta kerelaan dan permaafan kepada sesama atas kesalahan yang telah diperbuat. Sekaligus mengembalikan segala hak dan bentuk kezhaliman yang pernah kita ambil tanpa alasan yang hak. Sehingga kita bisa memasuki bulan ramadhan dengan hati yang suci, tanpa cela dan tanpa beban.

Dalilnya tentu melimpah ruah. Diantara adalah tidak diterimanya amal dari budak yang lari dari tuannya, anak yang durhaka kepada orang tuanya, tidak dikabulkannya doa dari mereka yang makanan dan pakaiannya haram dll. Termasuk, adanya sifat hasad dan dengki berpotensi merusak amal puasa, karena membuat pikiran tidak tenang, hati menggerutu dan mulut terus berkomat – kamit dengan ghibah dan fitnah. Lalu, dimana esensi kita berpuasa? Bukankah rasulullah berwasiat “Rubbba shaaimin hadhdhuhu min shiyaamihi juu’i wal ‘athas”. Agar kita selamat dari eperilaku demikian, maka sebaiknya kita masuki bulan ramadhan dengan hati putih bersih.

Kedua, Makan Bersama
Makan bersama itu menjadi salah satu wasilah paling efektif untuk mengikat persahabatan sekaligus menjadi parameter tingkat keakraban dan sehatnya ukhuwah. Hal ini terjadi baik pada orang yang sudah dikenal maupun yang belum dikenal. Saat menerima tamu yang tidak dikenalnya, buru – buru nabi Ibrahim menyembelih kambing untuk dihidangkan sebagai jamuan. Saat tamunya (yang ternyata adalah malaikat) tidak mau menyentuhnya, maka nabi Ibrahim merasa takut. Apa rahasianya? Karena makan bersama adalah tanda persahabatan dan menolak makanan adalah tanda permusuhan. Atau minimal, tingginya kadar kecurigaan serta rendahnya tingkat kepercayaan dan kebersamaan.

Pada sebagian kaum muslimin di Indonesia, ada tradisi makan bersama dalam banyak momentum. Mulai dari kenduri/kepungan dirumah, arisan RT/RW, silaturahim keluarga dll. Pada bulan ramadhan, kita memiliki banyak sekali wasilah untuk makan bersama dengan sesama. Baik dengan ifthar, berbagi takjilan, makan snack saat taushiah ba’da tarawih atau saat tadarusan di masjid. Momentum makan bersama, ditempat yang mulia (masjid/musholla) dalam suasana ibadah, sungguh menjadi wasilah pengikat hati yang efektif. Sebagaima pesan rasululah kepada kita semua “Wa kuunuu ‘ibadallaahi ikhwanaa”.

Khatimah
Ada shahabat dikabarkan surga oleh rasulullah, bukan karena amal – amalnya yang istimewa. Sampai ‘Abdullah bin ‘Umar ra merasa penasaran dan berkeinginan harus menyelidikinya dengan bermalam dirumahnya selama 3 hari. Setelah tiga hari berlalu, dia melihat bahwa amalan shahabat tersebut biasa saja. Biasa dalam hal ini tentu menurut standarnya generasi shahabat, bulan diukur menurut generasinya kita saat ini.

Setelah Ibnu Umar menyampaikan maksud sebenarnya, shahabat itu akhirnya bingung juga. Karena merasa tidak ada sesuatu darinya yang istimewa. Tapi setelah direnungi lagi, dia berkata “Mungkin penyebabnya karena kami tidak memiliki sifat hasad dan dengki kepada sesama muslim. Tidaklah kami tidur terkecuali kami mengingat – ingat dengan siapa kami bermuamalah dihari itu, lalu mendoakan kebaikan bagi mereka semua”. Bukankah diantara doa yang dikabulkan Allah adalah doa kepada sesama muslim dalam kondisi yang dirahasiakan?

Dibulan ramadhan, kita memiliki banyak momentum untuk beramal bersama dengan kaum muslimin. Buka puasa bersama, shalat tarawih bersama, ngaji bersama, doa bersama, tadarus bersama dll. Karena itu, mari jadikan bulan ramadhan menjadi sarana untuk mengikat persahabatan dan meningkatkan ukhuwah. Mari kita beribadah bersama dengan penuh kebersamaan, agar kelak juga bisa masuk surga bersama – sama pula. Wallahu a’lam.

Saifuddin: Puasa Sebagai Perbaikan Diri Lawan Narkoba

20160529_071228Jepara – Maraknya pengedaran narkoba akhir-akhir ini memunculkan kekhawatiran banyak pihak terutama terkait masa depan generasi muda. Perlu ada penanganan khusus untuk melawan peredaran narkoba. Salah satu yang bisa digunakan adalah puasa.

Menurut Saifuddin puasa tidak hanya diartikan sebagai ibadah menahan lapar saja, tapi juga sebagai sarana perbaikan diri. Lewat perbaikan diri itulah yang mampu menjadi tameng untuk melawan narkoba.

“Puasa adalah cara paling tepat karena di dalamnya tidak hanya diminta menahan lapar tapi juga hawa nafsu. Termasuk juga hawa nafsu untuk memakai narkoba”, ujar Saifuddin.

Dalam kesempatan ketika memberi sambutan Pengajian Yayasan Amal Insani pada Minggu (29/5), Saifuddin yang juga anggota DPRD Jepara asal Partai Keadilan Sejahtera mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan generasi muda di tengah maraknya peredaran narkoba.

“Saya sangat mengkhawatirkan masa depan generasi muda sekarang, apalagi beberapa waktu baru heboh penangkapan bandar narkoba di Jepara” tambah Saifuddin.

Menanggapi pendapat Saifuddin waktu itu, KH. Hayatun dari PCNU Jepara yang menjadi pembicara utama pengajian mendukung gerakan lawan narkoba demi generasi muda.

Refleksi Menyambut Ramadhan

IMG-20160522-WA0014Jika ingin mencari waktu yang tepat untuk mengamati geliat ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, maka waktu yang tepat untuk melakukannya ada di bulan Ramadhan. Ramadhan bagi masyarkat tidak hanya bermakna spiritualitas semata, namun juga bermakna tradisi. Tradisi yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial, ataupun, budaya.

 Tradisi yang kuat dan mengakar begitu dipegang masyarakat sejak dulu hingga sekarang. Contoh yang paling mudah adalah tradisi mudik. Mudik menjadi peristiwa yang luar biasa di bulan Ramadhan karena sekian ribu orang melakukan perjalanan dalam rentang waktu yang sama dan barangkali tempat yang sama pula. Perputaran ekonomi yang besar terjadi saat mudik dari mulai tarif transportasi hingga pakaian baru yang dikenakan. Eksistensi sosial pun begitu kuat karena bagi sebagian masyarakat mudik dijadikan sebagai ajang untuk memperlihatkan keberhasilan di tanah rantau. Tentu saja budaya, yang mana hampir di semua masyarakat pasti melakukan tradisi sungkeman (saling bermaafan).

Tradisi masyarakat ini seolah-olah menjadikan Ramadhan sebagai acara hajat akbar. Tak tanggung-tanggung di setiap daerah selalu punya agenda khas untuk menyemarakan baik sebelum ataupun sesudah Ramadhan. Kawasan Pantura dikenal ada Lebaran Ketupat, Jogja ada Grebeg Syawal, ada juga ritual padusan sebelum awal bulan. Tentunya di daerah lain punya agenda-agenda yang sesuai dengan tradisi setempat.

Dengan kompleksnya acara di bulan Ramadhan, tak ayal pemerintah juga ikut masuk untuk mengatur dan memfasilitasi masyarakat. Kebijakan politik pun masuk di sini. Berbagai aturan tarif transportasi, harga bahan pokok, hingga lalu lintas yang dilalui saat mudik diatur sedemikian rupa. Keterlibatan pemerintah lintas sektoral sangat penting untuk mendukung kebijakan yang ada dari sektor perhubungan, kepolisian, perdagangan, hingga keagamaan.

Ramadhan sebagai sebuah tradisi semakin menegaskan bahwa masyarakat begitu antusias menyambutnya. Meski hanya satu bulan dalam setahun tetap saja Ramadhan lebih gemerlap dari bulan lain. Tengok saja jumlah pengeluaran dalam di bulan Ramadhan. Mayoritas meyakini akan lebih banyak dari bulan lain. Padahal secara hitungan sederhana seharusnya lebih sedikit. Begitulah, saat tradisi yang berbicara, saat itulah kebutuhan untuk melaksanakan tradisi itu muncul.

Namun tanpa mengurangi nilai dari sebuah tradisi tetap saja urgensi utama Ramadhan adalah spiritualitas. Ramadhan hadir sebagai ruang spiritualitas sebelum tradisi. Spiritualitas bicara cara umat muslim menuju tujuan Ramadhan (pribadi yang bertakwa). Sedangkan tradisi bicara cara menyemarakkan Ramadhan.

Spiritualitas hadir dengan berbagai tata cara dan pedoman yang sudah diatur dalam Al Quran dan Sunnah. Tata caranya sudah hadir sejak dulu, saat Ramadhan hadir pertama kali. Dengan mengamalkan tanpa tambahan apapun, tujuan Ramadhan bisa tercapai. Ramadhan akan tetap ada meski tanpa tradisi sekalipun.

Esensi utama dalam Ramadhan itu sendiri adalah peningkatan amal ibadah. Sekecil apapun ibadah akan diberi pahala yang besar di bulan Ramadhan. Bahkan untuk urusan tidur pun, diberi pahala di bulan Ramadhan. Tak salah memang, Ramadhan hadir untuk meningkatkan ketakwaan.

Akhirnya dengan kita hidup bermasyarakat, tak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada dua sisi makna Ramadhan yaitu sebagai spiritualitas dan sebagai tradisi. Seyogyanya tradisi yang ada tidak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah di bulan Ramadhan. Kalaupun tradisi itu dianggap sebagai sebuah kewajiban tetap jangan sampai mengurangi kadar ibadah secara kuantitas ataupun kualitas.

Menghadapi Pilbup 2017, PKS Intensifkan Konsolidasi Kader

KonsldsJepara (1/5) – Mendekati Momentum Pilbup tahun 2017, DPD PKS Jepara Gencar melakukan agenda Konsolidasi kader diberbagai tempat. Tercatat sudah beberapa DPC yang sudah dikunjungi. Selain sebagai ajang safari politik dan konsolidasi, kunjungan juga dilkukan sebgai upaya memangkas jarak antar pengurus DPD dengan DPC.

Disela-sela acra pertemuan dengan dapil 2 yang terdiri dari DPC Pakis Aji, DPC Mlonggo dan DPC Bangsri, Kerua DPD PKS Jepara Khamidun Nugroho mengungkapkan harapan besar terhadap para kader dan simpatisan dilapangan dari DPC dan DPRa sebagai mesin utama politik.

“Saya sangat apresiasi semnagat kaerja kader ditingkat DPC dan DPRa. Semaoga dengan Silturahim yang kami lakukan bisa semakin menambah daya juang terutama untuk menyongsong Pilbup 2017″ ungkap hamidun Nugroho

Meskipun sampai sekarang DPD PKS Jepara Belum menentukan calon yang akan diusung, Khamidun Nugroho tetap akan mengintensifkan konsolidasi kader sebagai ajang dialog.

“Kami berharap dengan konsolidasi ini ada masukan, kritikan dan ide-ide untuk kami pengurus DPD,” Imbuh Nugroho.

Agenda Konsolidasi Kader akan terus diintensiflkan menjelang Pemilu Bupati dan Wakil Bupati tahun 2017. (mha)

Kartini dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Jepara

RWirianingsih1A Kartini yang selama ini banyak dikenal sebagai tokoh yang peduli pendidikan, ternyata juga seorang perempuan yang berusaha meningkatkan kesejahteraan keluarga masyarakat Jepara kala itu. Saat usianya enam belas tahun, bersama adiknya Rukmini dan Kardinah, Kartini mengirimkan beberapa karya seninya dalam Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) yang diselenggarakan di Den Haag tahun 1898. Dalam pameran itu, Kartini mengirim karyanya berupa dua buah lukisan pemandangan alam berbingkai kayu ukiran, hiasan dinding bunga tulip, hiasan dinding bergambar burung dari kain satin dalam bingkai bambu, lukisan kaca, sembilan buah kerang besar yang dilukis aneka pemandangan, enam buah bambu berukir dan alat batik serta tulisan proses pembatikan. Karya seni Kartini dan adik-adiknya ini mendapat perhatian khusus dari Sri Ratu Wilhelmina dan Ibu Suri Ratu Emma. Bahkan kepada Ketua Panitia, Ny. Lucardie, keduanya minta dibacakan surat pengantar dari Kartini. Kejadian ini ditulis dalam surat kabar De Rotterdamse Courant tanggal 30 Agustus 1898 (Hadi Priyanto, 2014:32-33).

Keberhasilan dalam pameran tersebut mendorong sekaligus menginspirasi Kartini dalam upaya  membantu perajin yang ada di Jepara untuk meningkatkan penghasilannya. Pada masa itu, seni ukir memang mulai berkembang namun hanya sebatas seni kerajinan tangan, belum dikerjakan dengan tujuan komersial sehingga belum begitu berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Diantara banyak desa yang banyak perajin ukirnya, Kartini memilih perajin yang berada di daerah Belakang Gunung, sebuah kampung artis yang terletak di belakang Benteng Portugis, di atas bukit. Penduduk Belakang Gunungkebanyakan adalah para pengukir, pandai besi dan pemahat kulit. Kampung ini secara tradisional merupakan kampung artis namun mereka sangat miskin. Bagi Kartini, keahlian ini tidak boleh dibiarkan merana (Pramoedya, 2010:189). Menurutnya, daerah Belakang Gunung memiliki banyak perajin yang karya-karyanya tergolong indah namun mereka tetap miskin dan tinggal di rumah-rumah yang terbuat dari anyaman bambu dan reyot. Penghasilan perajin yang rendah ini disebabkan harga jual yang rendah dan kadang harga ditentukan oleh pembeli yang kebetulan datang ke kawasan tersebut.

Kartini memulai upaya pemberdayaan ekonomi bagi para perajin ukir tersebut. Dengan dukungan ayah dan saudaranya, ia menampung duabelas perajin (akhirnya bertambah menjadi lima puluh orang karena pesanan bertambah banyak) yang diberi tempat di belakang rumah kadipaten dan dibimbing oleh Singowiryo. Para perajin itu diminta membuat barang berukuran kecil seperti peti rokok, tempat jahitan, meja kecil dan lainnya. Setelah jadi, Kartini menjual barang-barang ini ke Batavia dan Semarang dengan harga cukup tinggi dibanding harga jual di Jepara. Setelah dipotong biaya pengiriman dan bahan baku, uang hasil penjualan ini diberikan kepada para perajin.

Usaha pemberdayaan para perajin ukir ini terus berkembang. Salah satu bentuk promosi yang Kartini lakukan selain menjual, adalah dengan mengirim barang-barang itu sebagai cinderamata kepada teman-temannya yang orang Belanda, baik yang ada di Semarang, Batavia maupun yang ada di Belanda. Karena mutunya cukup bagus, pesananpun berdatangan. Bahkan saat itu barang-barang yang dibuat tidak hanya yang berukuran kecil tapi mulai berkembang pada perkakas ukir seperti kursi pengantin, meja, tempat tidur dan kursi tamu. Disini Kartini mulai terlibat dalam mendesain ukiran. Motif yang disukainya adalah motif Lunglungan Bunga dan menjadi motif yang digemari masyarakat. Motif ciptaan Kartini ini kemudian menjadi salah satu motif khas asli Jepara.

Usaha Kartini membuahkan hasil. Ukir kayu Jepara mulai dikenal luas tidak hanya di pasar lokal namun juga di pasar internasional. Ia seringkali menulis di surat kabar yang ada di Hindia Belanda dan surat kabar yang ada di Belanda tentang keindahan seni ukir Jepara, yang dengan tulisan itu banyak orang kagum akan keindahan seni ukir Jepara. Berkat tulisan-tulisan tersebut, sebuah lembaga perdagangan yang dipimpin oleh Ny. N. van Zuylen Tromp (didirikan tahun 1899 setelah acara Pameran Karya Wanita di Den Haag), bernama Oost en West,mengajak Kartini untuk bermitra dagang (Hadi Priyanto, 2014:37). Demikianlah, Kartini telah merintis jalan bagi terbukanya pasar baru bagi seni ukir Jepara.

Ukiran Jepara Go International

Kerja keras Kartini memberdayakan ekonomi masyarakat Jepara melalui kerajinan ukiran kayu membuahkan hasil. Ia mulai membangun hubungan dagang dengan Oost en West yang baru membuka cabang di Batavia. Oost en Westbertujuan untuk mengembangkan dan memasarkan hasil kerajinan masyarakat bumiputera. Bahkan pada tahun 1903, Oost en West mendirikan sebuah perusahaan di Den Haag yang diberi nama Boeatan yang secara khusus menangani bisnis kerajinan.

Hubungan perdagangan ini mudah dibangun karena nama RA Kartini sudah dikenal, terutama setelah Kartini mengikutkan karyanya pada Pameran Nasional Karya Wanita (Nationale Tentoonstelling voor Vrownarbeid) tahun 1898 di Den Haag. Kartini dengan tekun membersamai dan mengawasi para perajin ukir dari Belakang Gunung yang mulai dipesan Oost en West.

Kartini menuliskan kegembiraannya pada Eddy Abendanon, putra J.H. Abendanon, pada tanggal 15 Agustus 1902 ketika Oost en West banyak memesan barang ukiran untuk keperluan pesta sinterklas.

“Hore untuk kesenian dan kerajinan rakyat kami! Hari depanmu pasti akan gemilang! Aku tak dapat mengatakan betapa girang dan bahagia aku. Kami mengagumi rakyat kami. Kami bangga atas mereka. Rakyat kami yang kurang dikenal, karena itu juga kurang dihargai……. Hari depan Jepara sekarang terjamin….. Tuan Zimmermann memuji setinggi langit hasil karya arsitek dari rakyat berkulit coklat yang sering dihina. Seniman-seniman kami mendapatkan pesanan dari Oost en West untuk sinterklas. Sekarang seniman-seniman kami dapat melaksanakan ide-ide mereka yang sangat bagus-bagus. Dapat menjelmakan gagasan-gagasan yang puitis dalam bentuk-bentuk yang indah, garis-garis yang ramping, berombak-ombak, berkelok-kelok dalam pancawarna yang cemerlang.”

Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Usaha Mikro Kerajinan Rakyat

Kartini mengatakan dalam suratnya kepada Ny. R.M. Abendanon tertanggal 9 Maret 1903:

“Kami sudah menerima kabar. Beberapa hari lagi kulit penyu itu sudah ada disini, dan akan dibawa pandai emas ke Solo. Senang sekali bahwa sekarang sudah ada tiga cabang kerajinan seni yang sedang berkembang di tempat kelahiran saya. Dan kami sedang berikhtiar mencari kerajinan lain yang akan kami galakkan”(Rahayu Amatullah, 2016).

Demikianlah Kartini tak pernah berhenti bekerja untuk rakyat. Pikiran beliau tak lelah menganalisa, mencari ide-ide untuk membuat rakyat Jepara khususnya menjadi lebih sejahtera. Dan Kartini menjalaninya dengan segenap ketelatenan dalam pembinaan. Beliau melanjutkan dalam suratnya: “Mereka sekarang tahu, mengerti bahwa maksud kami ialah memakmurkan mereka sendiri. Mereka maklum akan keuntungannya sendiri, dan mereka menghargai usaha kami dengan membantu secara gembira dan rajin. Semuanya yang kami kerjakan bagi mereka akan sia-sia saja bila mereka tidak mengerti, bahwa kami bermaksud baik bagi mereka dan kesejahteraan merekalah yang kami tuju…… Alangkah senangnya melihat, bagaimana cabang kerajinan tadi benar-benar mulai hidup. Perempuan tukang dringin [kerajinan sabuk sutera bersulam benang emas, pen.] mulai bekerja besar-besaran. Bahkan di kampung sekitar kampung Melayu orang Bumiputera juga mengerjakan hal itu…”

Dari penggal paragraf surat diatas kita memahami bahwa Kartini melakukan pemberdayaan masyarakat. Beliau bekerja tekun melakukan pembinaan dan pendampingan kelompok-kelompok perajin di beberapa kampung dan bukan hanya kerajinan seni ukir kayu. Ketelatenan pendampingan itu beliau maksudkan agar pada akhirnya para perajin dapat mandiri.

Kartini bahkan memikirkan pengkaderan perajin sebagaimana yang disampaikan kepada Ny. Abendanon:

“Tukang emas sudah bertambah banyak pembantu dan murid-muridnya. Dan ada pula anak-anak yang minta dididk menjadi tukang ukir kayu. Ada satu hal yang lebih-lebih menggirangkan hati saya benar. Diantara murid-murid itu ada satu anak kota, juga bukan anak dari Belakang Gunung, desa tukang ukir kayu. Murid-murid lain kami yang mencarinya, tetapi yang seorang datang dari kota itu datang sendiri minta turut belajar. Itulah yang kami kehendaki. Itulah tanda yang mengggembirakan, menyenangkan hati! Syukur, beribu-ribu syukur!” (Rahayu Amatullah, 2016).

Kartini memang seorang pemimpin yang natural sekaligus visioner, yang berorientasi pada kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadinya.

Dra Wirianingsih, Msi

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP PKS

 

——————-

Daftar Pustaka:

  1. Hadi Priyanto, dkk, Mozaik Seni Ukir Jepara (Pemkab Jepara: Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara)
  2. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja (Lentera Dipantara 2010)
  3. Rahayu Amatullah, Kartini: Jejak Sebuah Jatidiri (Granada Publishing House 2016)

Warga Jepara Antusias Hadiri Tasyakuran Milad PKS Ke-18

JEPARA- Dalam rangka Milad PKS ke-18, DPD PKS Jepara IMG-20160420-WA0002 mengadakan Tasyakuran Milad ke-18. Acara bertempat di Ruang Pertemuan Kantor DPD PKS Jepara (20/4). Acara ini dihadiri warga dari berbagai kalangan yang berbaur bersama kader  dan pengurus baik dari level pengurus ranting hingga pengurus cabang. Hadir pula dalam acara tersebut Ketua DPD PKS Khamidun Nugroho dan Ketua Dewan Syariah Nur Alim, Lc.

Khamidun Nugroho mengungkapkan bahwa acara Milad kali ini dikemas dalam bentuk Tasyakuran agar bisa menyentuh lapisan warga Jepara. Waktunya pun dilaksanakan sore hari dengan pertimbangan warga Jepara kebanyakan sudah selesai bekerja.

“Tasyakuran ini kami buat terbuka untuk umum sebagai bentuk wujud syukur kepada Allah dan ucapan terima kasih kepada warga Jepara yg sudah memberi ruang PKS untuk berkarya”, ungkap Khamidun Nugroho.

Terbukti acara Tasyakuran sukses dengan antusiasnya warga yang hadir di Ruang Pertemuan DPD PKS Jepara.
Lebih lanjut Khamidun Nugroho meminta doa dari warga jepara agar perjalanan PKS membawa keberkahan bagi umat.

“Kami mohon doanya kepada warga Jepara, agar PKS tetap bersih, peduli, dan profesional untuk selalu berkhidmat kepada masyarakat” ucap Khamidun Nugroho.

Acara berlangsung dari sore selepas asar hingga jelang magrib. Acara dimulai dengan pembukaan, tilawah, mauidho khazanah oleh Nur Alim, tahlil, dan doa penutup. (mfi)

6 Pesan Sohibul Iman untuk Kader PKS

Palangkaraya (17/4) – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menyampaikan enam Kanngpesan  politik kepada seluruh kadernya. Salah satunya, Sohibul Iman mengingatkan politik PKS adalah melayani rakyat.

“Pertama, luruskan niat. Mari kita tanyakan pada hati untuk apa kita berpartai politik? Untuk pribadi ataukah untuk berkhidmat kepada bangsa dan negara? Kita berpolitik untuk memberikan sumbangsih bagi ummat bangsa dan negara,” ujar Sohibul Iman saat membuka Rakorwil DPW PKS Kalimantan Tengah di Palangkaraya, Sabtu (16/4/2016).

Dia mengatakan, PKS berpolitik untuk berkontribusi agar masyarakat bisa lebih sejahtera ke depan. Jabatan menurutnya, adalah mandat bukanlah kemuliaan karena kehebatan individu.

Kedua, lanjut Sohibul Iman, meneguhkan sikap. “Sikap untuk tidak akan melakukan sesuatu yang tidak terpuji. Kader PKS harus taat hukum dan taat ajaran agama,” imbuhnya.

Menurut mantan rektor Universitas Paramadina ini, sikap tersebut adalah bentuk dua kesadaran. Kesadaran yuridis berdasarkan hukum positif RI dan kesadaran etis atas nilai nilai islam. Terlebih kader yang menjabat sebagai pejabat publik.

“Ketiga, mari bersungguh sungguh berjuang. Kita berpolitik atas kesadaran dan tanpa paksaan. Maka kita harus bekerja dengan bersungguh sungguh dan profesional,” jelas dia.

Khususnya kepada anggota legislatif PKS, Sohibul Iman menekankan, jalankan seluruh fungsi legislatif dengan menjadi pionir fungsi kedewanan secara optimal.

Keempat, loyal kepada kebijakan dan arahan partai. Menurut Sohibul Iman, setiap tindakan adalah sesuai dengan arahan partai. Tindakan berdasarkan hasil syuro agar mendapatkan keberkahan.

“Tidak bergerak atas kehendak sendiri saja. Mulai hari ini kita disiplin dan loyal atas kebijakan dan arahan partai,” tegas Sohibul Iman.

Kelima, pesan doktor jebolan Jepang ini, kader dan pengurus PKS harus menjaga kedekatan antara pimpinan, kader dan konstituen.

“Semakin kita mendapatkan amanah, maka semakin kita didorong untuk semakin dekat dengan kader dan konstituen. Jangan kecewakan mereka!” tegasnya.

Keenam, kader dan pengurus harus membangun kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat.

“Mari kita bangun rumah besar ini bersama sama. Karena PKS tidak bisa melakukan semua sendiri. Kita membangun dengan bekerjasama dengan semua pihak,” pungkas Sohibul Iman.

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman

Santri Jepara jadi Juara 2 Lomba Baca Kitab Kuning PKS Jateng

Aula Markas Dakwah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah dipenuhi oleh f0accf48ad531cdc207ebc8791b736d7suasana kekeluargaan, keceriaan, dan khidmat. Nampak seorang pemuda sedang menyampaikan satu-dua kalimat dalam bahasa Arab, dihadapan seluruh orang yang hadir dalam seleksi tingkat wilayah Musabaqoh Qiro’atul Kutab yang diselenggarakan PKS.
Pemuda dengan umur 17 tahun itu, memaparkan setiap makna dari kalimat-kalimat yang dituliskan ulama masyhur pada kitab Fathul Mu’in. Muhammad Mufamid nama pemuda yang menjadi peserta termuda dalam seleksi wilayah Jawa Tengah ini, baru saja menyelesaikan tingkat Aliyah di Pondok Darul Falah Jepara.
“Seorang yang keluar mani, diketahui dalam kitab ada 3 ciri, yang pertama merasa lega,” terang Mufamid, dengan disambut dengan gelak tawa di seluruh ruangan. Mufamid mendapat giliran ke tiga untuk membaca kitab Fathul Mu’in dan mendapatkan maqra’ mengenai mandi besar atau thaharah.
Mufamid merupakan pemuda kelahiran Magelang, yang mulai belajar Kitab karya Ulama sejak kecil. Selepas menempuh jenjang Sekolah Dasar, ia memilih untuk melanjutkan di Jepara, karena di Jepara itulah ia menjadi bersemangat untuk belajar Kitab Kuning.
Jepara merupakan salah satu daerah yang diyakininya saat itu mampu untuk memberikannya ilmu mengenai Nahwu Shorof dengan mudah dan cepat. Mufamid menjelaskan bahwa ia berminat untuk belajar Ilmu tersebut dikarenakan ingin sesegera mungkin mampu untuk memahami Kitab-kitab para Ulama Salaf.
“Saya senang membaca kitab2 turots, kitab yang dituliskan langsung oleh para ulama salaf. Ilmu-ilmu yang didapat dari para ulama, bisa dipelajarai selain itu juga ingin belajar syiar islam,” tegas santri Muda ini.
Lebih Lanjut ia menjelaskan bahwa, salah satu motivasi dirinya untuk menikmati kitab-kitab yang bertuliskan arab tanpa harokat atau gundul ini adalah ia memiliki sebuah keinginan untuk melestarikan kitab kuning di kalangan para pemuda. Melihat minimnya minat pemuda saat ini, apalagi jumlah pemuda yang mampu untuk membaca dan memahaminya.
Ia menambahkan bahwa agenda-agenda yang bertujuan menjaga dan meningkatkan Intelektualitas dan orisinalitas Islam seperti Musabaqoh Qira’atul kutub ini untuk sering diadakan. Karena acara seperti ini mampu untuk memberikan motivasi dan kesemangatan santri-santri yang belajar kitab kuning untuk terus belajar dan melestarikan ilmu-ilmu para Ulama yang tertulis dalam kitab-kitab bersejarah.
“Lanjut terus untuk belajar kitab kuning, Kitab Ulama Salaf. Insya Allah kita akan bertemu dalam kesuksesan” pesan pemuda yang mendapatkan peringkat atau Juara 3 dalam Penyisihan Wilayah Jawa Tengah itu.
Sementara untuk juara I diraih oleh Wail Muhlis, santri Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Kabupaten Rembang. Untuk juara II, diraih oleh oleh Muhammad Ainul Gufri dari Pondok Pesantren Fadlul Wahid Grobogan, Juara Harapan I diperoleh Ahmad Najib, santri Pondok Pesantren Al Hikmah I, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes. Juara harapan II diraih oleh Taufan Nisahuri dari PP Al Munir Magelang dan juara harapan III diraih oleh Khoirul Mahfudz, Santri Pondol Manbaul Hikmah Temanggung.
sumber : jateng.pks.id