Refleksi Menyambut Ramadhan

IMG-20160522-WA0014Jika ingin mencari waktu yang tepat untuk mengamati geliat ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat, maka waktu yang tepat untuk melakukannya ada di bulan Ramadhan. Ramadhan bagi masyarkat tidak hanya bermakna spiritualitas semata, namun juga bermakna tradisi. Tradisi yang mencakup segala aspek kehidupan masyarakat baik ekonomi, sosial, ataupun, budaya.

 Tradisi yang kuat dan mengakar begitu dipegang masyarakat sejak dulu hingga sekarang. Contoh yang paling mudah adalah tradisi mudik. Mudik menjadi peristiwa yang luar biasa di bulan Ramadhan karena sekian ribu orang melakukan perjalanan dalam rentang waktu yang sama dan barangkali tempat yang sama pula. Perputaran ekonomi yang besar terjadi saat mudik dari mulai tarif transportasi hingga pakaian baru yang dikenakan. Eksistensi sosial pun begitu kuat karena bagi sebagian masyarakat mudik dijadikan sebagai ajang untuk memperlihatkan keberhasilan di tanah rantau. Tentu saja budaya, yang mana hampir di semua masyarakat pasti melakukan tradisi sungkeman (saling bermaafan).

Tradisi masyarakat ini seolah-olah menjadikan Ramadhan sebagai acara hajat akbar. Tak tanggung-tanggung di setiap daerah selalu punya agenda khas untuk menyemarakan baik sebelum ataupun sesudah Ramadhan. Kawasan Pantura dikenal ada Lebaran Ketupat, Jogja ada Grebeg Syawal, ada juga ritual padusan sebelum awal bulan. Tentunya di daerah lain punya agenda-agenda yang sesuai dengan tradisi setempat.

Dengan kompleksnya acara di bulan Ramadhan, tak ayal pemerintah juga ikut masuk untuk mengatur dan memfasilitasi masyarakat. Kebijakan politik pun masuk di sini. Berbagai aturan tarif transportasi, harga bahan pokok, hingga lalu lintas yang dilalui saat mudik diatur sedemikian rupa. Keterlibatan pemerintah lintas sektoral sangat penting untuk mendukung kebijakan yang ada dari sektor perhubungan, kepolisian, perdagangan, hingga keagamaan.

Ramadhan sebagai sebuah tradisi semakin menegaskan bahwa masyarakat begitu antusias menyambutnya. Meski hanya satu bulan dalam setahun tetap saja Ramadhan lebih gemerlap dari bulan lain. Tengok saja jumlah pengeluaran dalam di bulan Ramadhan. Mayoritas meyakini akan lebih banyak dari bulan lain. Padahal secara hitungan sederhana seharusnya lebih sedikit. Begitulah, saat tradisi yang berbicara, saat itulah kebutuhan untuk melaksanakan tradisi itu muncul.

Namun tanpa mengurangi nilai dari sebuah tradisi tetap saja urgensi utama Ramadhan adalah spiritualitas. Ramadhan hadir sebagai ruang spiritualitas sebelum tradisi. Spiritualitas bicara cara umat muslim menuju tujuan Ramadhan (pribadi yang bertakwa). Sedangkan tradisi bicara cara menyemarakkan Ramadhan.

Spiritualitas hadir dengan berbagai tata cara dan pedoman yang sudah diatur dalam Al Quran dan Sunnah. Tata caranya sudah hadir sejak dulu, saat Ramadhan hadir pertama kali. Dengan mengamalkan tanpa tambahan apapun, tujuan Ramadhan bisa tercapai. Ramadhan akan tetap ada meski tanpa tradisi sekalipun.

Esensi utama dalam Ramadhan itu sendiri adalah peningkatan amal ibadah. Sekecil apapun ibadah akan diberi pahala yang besar di bulan Ramadhan. Bahkan untuk urusan tidur pun, diberi pahala di bulan Ramadhan. Tak salah memang, Ramadhan hadir untuk meningkatkan ketakwaan.

Akhirnya dengan kita hidup bermasyarakat, tak bisa dipungkiri bahwa akan selalu ada dua sisi makna Ramadhan yaitu sebagai spiritualitas dan sebagai tradisi. Seyogyanya tradisi yang ada tidak mengurangi kekhusyukan dalam beribadah di bulan Ramadhan. Kalaupun tradisi itu dianggap sebagai sebuah kewajiban tetap jangan sampai mengurangi kadar ibadah secara kuantitas ataupun kualitas.

This entry was posted in Feature.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>